First Monev, First Flight…

First Monev, First Flight…

16-03-17-21-51-19-519_decoPantai Parai

Seneng campur deg-degan…yup itulah yang saya rasain waktu tiba-tiba dikasih tau kalau saya bakal ditugasin ke Pangkal Pinang, Bangka. Gimana ngga? Itu bakalan jadi pengalaman pertama saya tugas ke luar daerah sendiri, sekaligus yang paling memalukan, karena inilah pertama kalinya saya bakal naik pesawa terbang, hahaha…  Setelah sebulan sebelumnya (Januari) trip saya dan temen-temen ke Belitung gatot alias gagal total gara-gara cuaca yang ngga ngedukung plus mesti ikhlasin tiket pesawat PP yang melayang, ternyata Allah punya rencana lain dengan perjalanan yang serba gratisan ini, walaupun ga ke Belitung. Yup namanya juga tugas kantor, pastinya cuma tinggal bawa badan aja sama keperluan pribadi, hehe..Kepergian saya ke Pangkal Pinang ini adalah untuk monev (monitoring dan evaluasi) sekolah dampingan yang ada di daerah tersebut. Meskipun judulnya adalah “tugas kantor”, tapi saya tetep bersemangat buat perjalanan ini dan tentunya ga mau menyia-nyiakan perjalanan ini begitu aja. Untungnya orang yang bertanggung jawab atas sekolah dampingan di daerah ini memberikan saya kelonggaran waktu pulang, sehingga saya bisa manfaatin waktu tersebut buat jalan-jalan,hehe..

Oke..berhubung ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat, maka hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu gimana tahapan2 yang harus saya lalui di bandara sampai akhirnya bisa duduk manis di pesawat. Tanpa ragu dan malu, saya pun bertanya2 dengan teman2 kantor saya yang sudah sering bolak-balik naik pesawat plus bantuan dari si mbah Google demi ga malu2in di bandara ntar,haha..

Dengan bekal baju untuk tiga hari dua malam plus bahan-bahan untuk monev, akhirnya saya berangkat. Sesampainya di Bandara Soetta, Alhamdulillah saya bisa melewati semua tahapannya dengan lancar, dan bisa dibilang untuk orang yang baru pertama kali naik pesawat, saya ga malu-maluin lah.. *berdasarkan cerita2 kocak yang saya denger dari orang2 yang baru pertama kali naik pesawat 😀

Meskipun hanya menempuh satu jam perjalanan, tapi lumayan bikin saya deg-degan didalam pesawat dan akhirnya saya menginjakkan kaki di Pangkal Pinang. Di Bandar udara Depati Amir, Pangkal Pinang, saya dijemput oleh Pak Reinaldi (driver yang menjadi langganan kantor saya ketika bertugas disana). Sambil menuju penginapan, beliau pun dengan semangat bercerita tentang kota Pangkal Pinang ini. Saya pun langsung jatuh cinta ketika melihat kota ini, jalanan tidak begitu ramai, angkutan pun tidak banyak seperti di Bogor yang sudah merajai jalan raya. Meskipun tidak ada mall-mall besar, bioskop, franchise2 makanan, dan fasilitas lainnya seperti di kota besar, namun justru inilah yang membuat saya jatuh cinta sama kota ini. Cuma ada satu hal yang bikin saya kurang nyaman, yaitu panasnya yang cukup menyengat.

Sesampainya di penginapan, saya disambut oleh pendamping sekolah disana, yaitu Mba Nety. Dia begitu ramahnya menyambut saya disana. Setelah istirahat sebentar di penginapan, Mba Nety pun langsung mengajak saya untuk mencari makan. Makanan pertama yang menyambut saya di kota Pangkal Pinang itu adalah tekwan, yaitu  hidangan sejenis bakso yang terbuat dari ikan dan sagu yang dibuat dalam ukuran kecil-kecil, dan disajikan dengan menggunakan kuah udang dengan rasa yang khas. Tempat yang menjual makanan itupun sangat nyaman, meskipun hanya kedai kecil di pinggiran jalan, namun tetap ramai pengunjung. Setelah selesai makan, saya pun kembali ke penginapan untuk mandi, dan setelah maghrib kami makan lagi di mie Bangka “Sandra Dewi”. Katanya tempat  ini adalah favoritnya Sandra Dewi kalau lagi di Bangka. Saya juga penasaran dengan rasa mie Bangka di kota asalnya, hehe..

Keesokan harinya, tepat jam 7 pagi saya sudah tiba di SDN 40 Pangkal Pinang, tempat saya monev. Disana saya menemui Kepala Sekolah dan beberapa guru yang sudah datang sambil menyerahkan bantuan Semai Buku Nusantara, yaitu bantuan buku-buku untuk anak-anak yang bekerja sama dengan Asia Foundation. Setelah melakukan monev sampai sekitar jam 1 siang, Mba Nety mengajak saya untuk mengunjungi Museum Timah yang ada di kota Pangkal Pinang. Yup, timah merupakan komoditi utama dari kota ini, sayangnya eksploitasi yang berlebihan dari pihak illegal membuat rusak alam ini.

Sorenya saya diajak Mba Nety untuk kembali ke sekolah melihat anak-anak latihan menari untuk persiapan sebuah acara. Senangnya melihat mereka latihan menari dengan semangat dan penuh keceriaan.

20130227_161044

anak-anak SDN 40 Pangkal Pinang yang sedang latihan menari.. 🙂

Keesokan paginya, saya kembali ke sekolah untuk berpamitan dengan guru-guru dan Kepala Sekolah disana. Tak disangka, yang awalnya saya hanya niat untuk berpamitan sebentar, ternyata guru-guru dan kepala sekolah disana mengajak saya untuk sharing. Saya sempat deg-degan karena tidak tahu apa yang harus saya sampaikan kepada mereka dengan pengalaman saya yang minim ini di dunia pendidikan. Untungnya proses sharing pun tidak berjalan terlalu lama, hanya satu jam. Tepat jam 9 saya pun meninggalkan sekolah dengan sekardus oleh-oleh yang mereka berikan untuk saya bawa pulang ke Bogor. Alhamdulillah, masih ada beberapa jam tersisa untuk jalan-jalan sebelum saya meninggalkan kota ini. Pak Reinaldi pun dengan sigapnya langsung membawa kami ke Pantai Parai yang terletak di daerah Sungailiat. Perjalanan selama kurang lebih 2 jam kami tempuh untuk sampai ke pantai ini.

16-03-17-21-51-50-554_decosuguhan alam Pantai Parai view 1..

16-03-17-21-52-20-623_decosuguhan alam Pantai Parai view 2..

suguhan alam Pantai Parai view 3..

16-03-17-21-48-39-408_decosuguhan alam Pantai Parai view 4..
16-03-17-21-50-04-164_decosuguhan alam Pantai Parai view 5..

pesona alam di Pantai Tanjung Pesona..

Wooww..saya pun terpukau dengan keindahan pantai ini, pantai yang cukup mengobati kekecewaan saya karena tidak jadi berkunjung ke Belitung bulan lalu. Pantai dengan lautan yang biru, pasir putih, dan bebatuan yang indah, membuat saya betah berlama-lama disini dan tentunya ga mau kelewatan untuk mengabadikan tempat yang super indah ini.Setelah beberapa lama menjelajahi pantai ini, kami pun beranjak untuk menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pantai Tanjung Pesona yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pantai Parai. Disana kami menikmati keindahan pantai sambil mengisi perut. Tanpa berlama-lama, kami pun bergegas untuk kembali, bukan kembali ke penginapan, tapi ke bandara. Yup, ini adalah hari terakhir saya di kota ini. Tidak rela rasanya meninggalkan kota ini dengan begitu cepat, karena masih banyak tempat-tempat indah lainnya yang belum saya kunjungi disana. Saya berharap bisa kembali lagi kesini, bahkan ke Belitung untuk mengagumi mahakaryaNya yang begitu indah. Semoga…

Terima kasih Mba Nety yang selalu menemani saya disana, Pak Reinaldi yang selalu mengantar saya disana, anak-anak yang begitu sopan dan ceria, serta guru-guru dan kepala sekolah disana yang menyambut saya dengan baik… dan pastinya terima kasih atas suguhan alam yang begitu indah disini..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s