Sebuah Cerita, dari Para Harapan Bangsa

Sebuah Cerita, dari Para Harapan Bangsa

Tawa merekaTawa adik-adik SDN Banyuasih 3 Pandeglang, Banten (foto by. @wiediesta)

“Di daerah penempatan saya, tidak ada MCK. Bisa dihitung berapa keluarga yang memilikinya, padahal sebenarnya mereka mampu membuatnya. Kesadaran mereka akan kebersihan dan kesehatan masih kurang,” ujar Ramdhan.

“Kalau di daerah penempatan saya, sulit sekali mendapat sinyal. Kamar mandi pun jarang ditemui. Jadi saya harus bangun pagi-pagi sekali menuju sumur untuk membersihkan badan,” ujar Mila.

“Kalau di sini (SDN Banyuasih 3 Pandeglang), hanya kelasnya saja yang kurang. Selebihnya sudah lumayan bagus dan bersih,” tambahnya.

Selama satu tahun, mereka harus terbiasa dengan kondisi tersebut. Sambil mengabdikan diri mereka sebagai pengajar muda bagi generasi penerus bangsa. Tak ada kenyamanan bagi mereka, tapi lebih jauh dari pada itu, mereka mendapatkan kepuasan karena bisa berkontribusi langsung bagi kemajuan bangsa ini.

Bagi mereka, itu adalah pilihan, panggilan, sekaligus kewajiban. Pilihan untuk menjadi pengajar, panggilan untuk mengabdi pada bangsa, dan kewajiban untuk menjadikan bangsa ini lebih baik.

*****

Waktu menunjukkan tepat pukul 04.00 pagi ketika dua mobil APV yang mengantar kami (para Relawan Komunitas Filantropi Pendidikan) tiba di sebuah sekolah di Kecamatan Cigeulis, Pandeglang. Kurang lebih enam jam perjalanan kami tempuh dari Jakarta untuk sampai ke sini. Jalan yang kami lalui pun tak semulus jalanan di perkotaan dan hanya bisa dilewati ketika musim kemarau.

Lima teman kami dari Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa yang sedang ditempatkan di daerah ini, menyambut kedatangan kami dengan ramah. Mereka langsung membawa kami menuju sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari sekolah agar kami dapat beristirahat sejenak sebelum sang surya bersinar.

Pukul 07.30 pagi, adik-adik sudah berkumpul di lapangan sekolah untuk menyambut kami yang mereka sebut “tamu istimewa”. Luar biasa terharu melihat antusias mereka. Tidak semua anak tinggal dekat sekolah. Beberapa dari mereka harus berangkat lebih pagi untuk tiba di sekolah tepat waktu.

Sebelum bergabung dengan adik-adik di lapangan, kami menyempatkan untuk berbincang dengan Kepala Sekolah SDN Banyuasih 3 dan beberapa guru di sana. “Yah, beginilah kondisi sekolah kami yang seadanya,” ujar Pak Sudirman, Kepala Sekolah SDN Banyuasih 3.

Sekolah ini hanya terdiri dari 3 ruang kelas yang digunakan secara bergantian oleh kelas 1 sampai kelas 6. Bahkan ada 1 ruang kelas yang disekat untuk dipakai oleh 2 rombongan belajar. Hanya ada 3 orang guru PNS ditambah 5 guru honorer di sekolah ini. Itulah yang menjadi salah satu pertimbangan mengapa SDN Banyuasih 3 dipilih menjadi lokasi penempatan guru dari SGI Dompet Dhuafa. Selain memang muridnya yang sebagian besar berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Adik-adik sudah tidak sabar menunggu kami di lapangan sekolah. Semacam apel pagi yang dilaksanakan khusus untuk menyambut kedatangan kami ini dibuka oleh salah seorang guru SGI yang ditugaskan di sekolah ini, yang dikenal adik-adik dengan sebutan Pak Ari. Sambutan dari perwakilan relawan, Kepala Sekolah SDN Banyuasih 3, dan perkenalan dari masing-masing relawan hingga senam otak bersama dengan adik-adik menjadi rangkaian acara apel pagi ini.

Antusiasme adik-adik menjadi semangat bagi kami para relawan yang mendapat kesempatan untuk bermain dan belajar bersama mereka hari ini. Para siswa dan relawan kemudian dibagi kedalam tiga kelas. Masing-masing kelas akan membuat kreasi display kelas. Dibantu para relawan, adik-adik pun dengan semangat membuat kreasi yang nantinya akan dipajang di ruang kelas mereka.

???????????????????????????????

Membuat display kelas

???????????????????????????????Bermain dan Belajar bersama adik-adik SDN Banyuasih 3 (Foto by. @wiediesta)

Display kelas pun selesai dibuat. Adik-adik keluar dari kelas mereka sambil membawa hasil display kelas yang mereka buat. Tidak lupa kami semua berfoto bersama untuk mengabadikan moment tersebut.

Ini karya kami

IMG_7107Hasil karya adik-adik SDN Banyuasih 3 (foto by. Relawan KFP)

Selesai membuat display kelas, kami makan siang bersama. Adik-adik begitu bersemangat membuka bekal yang mereka bawa dari rumah. Setelah sebelumnya mereka berteriak, “lapar.. lapar.. ayo kita makan sekarang.”

Perut kenyang, saatnya mereka pulang. Pulang untuk istirahat sebentar dan menyiapkan keperluan mereka untuk menginap di sekolah.

Menjelang sore hari, ketika kami para relawan sedang terlelap sejenak melepas lelah, mereka sudah berlari kesana kemari di sekolah. Mereka begitu bersemangat untuk melanjutkan kegiatan bersama kami.

bermain bersamaBermain bola bersama para Relawan KFP (foto by. @wiediesta)

Sembari menanti senja sore, kami bermain dan tertawa bersama mereka di tepi pantai. Seperti tak pernah lelah, adik-adik begitu bersemangat mengikuti permainan-permainan yang dibuat oleh para guru SGI.

Bermain di pantai bersama mereka (Foto by. @wiediesta)

Senja tenggelam, pertanda kami harus kembali ke sekolah bersama adik-adik untuk menunaikan sholat Maghrib. Selepas sholat, saatnya persiapan untuk kegiatan terakhir bersama adik-adik di hari ini. Ikan yang akan dibakar untuk makan malam telah siap. Kayu bakar untuk acara api unggun pun telah siap.

Senja dibelakang SDN Banyuasih 3 (Foto by. @wiediesta)

Makan malam sudah. Menyalakan api unggun sudah. Saatnya kegiatan pamungkas bersama adik-adik di hari ini, yaitu menerbangkan lampion. Satu per satu lampion kami terbangkan bersama harapan dan cita-cita adik-adik yang melambung tinggi ke angkasa.

Menerbangkan lampion harapan (Foto by. Adhi Kurniawan)

Minggu pagi, mereka sudah beramai-ramai mendatangi rumah kami menginap, “Bu guru… Pak guru, ayo kita berenang di kolam,” ajak mereka. “Waah..disini ada kolam juga ?” ujarku. “Iya bu, di kolamnya juga ada ikan dan buayanya”, tambah mereka. Aku terdiam.

Setelah berjalan selama kurang lebih 15 menit, kami tiba di “kolam” yang begitu luas dan indah. Kolam tersebut tidak lain adalah sebuah danau yang bermuara ke laut. Adik-adik langsung menyeburkan diri ke kolam itu. Sebagian dari kami ada yang ikut berenang bersama mereka, sebagian lagi mengabadikan keceriaan mereka bermain di kolam.

Keceriaan adik-adik di “kolam” mereka (Foto by. @wiediesta)

Tak jauh dari kolam, terhampar lapangan golf yang luas dengan pemandangan pantai dan pasir putih yang indah. Adik-adik begitu senang bermain disana. Canda tawa mereka pun lepas. Tempat mereka yang terkucil jauh dari perkotaan, ternyata menyimpan sejuta keindahan.

Suguhan alam di ujung Pandeglang (Foto by. Relawan KFP)

Kami pun tiba di penguhung waktu bersama mereka. Kami harus kembali ke Jakarta. Kembali ke rutinitas kami. “Bu guru, nanti kita main di kolam lagi ya kalau Ibu kemari lagi”, ucap salah seorang murid kepada saya. Insya Allah, waktu akan mempertemukan kami kembali dilain kesempatan. Bermain dan belajar bersama mereka, memberikan energi baru bagi kami.

Relawan KFPKami para Relawan KFP (Foto by. Relawan KFP)

“Terima kasih Pak guru, Bu guru, sudah mau belajar dan bermain bersama kami”, ujar adik-adik. Dalam hatiku berkata, justru kami lah yang berterima kasih karena telah mendapat banyak pelajaran berharga dari mereka. Kesederhanaan, kebahagiaan, keceriaan, yang tak pernah ada habisnya dari mereka.

Teruslah belajar demi cita-citamu dik, jadilah kebanggaan bagi bangsa ini. Kalian adalah mutiara-mutiara harapan bangsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s