Menikmati Lukisan Alam Sang Pencipta dari Ujung Barat Indonesia (Part 1)

Menikmati Lukisan Alam Sang Pencipta dari Ujung Barat Indonesia (Part 1)

IMG_20160218_122704

“Take vacations and go as many places as you can… Because you can always make money, but you can’t always make a memories” –anonymous-

Indonesia, menyuguhkan keindahan alam yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebagai wilayah ujung barat Indonesia, Sabang pun tak kalah memberikan suguhan alam yang memanjakan mata kita. Pantai, bukit, laut, hutan, kawah, seakan memanjakan mata siapa saja yang mengunjunginya.

Selasa, 9 Februari 2016 pukul 08.30 WIB kami tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Kami langsung dijemput oleh teman salah satu rekan seperjalanan yang tinggal di Aceh. Dari bandara, kami langsung diajak mengunjungi kuburan massal korban tsunami terbesar di Kab. Aceh Besar yang letaknya tidak jauh dari bandara, yakni kuburan massal siron. Pada kuburan massal tersebut, sebanyak 46.718 korban tsunami dikebumikan.

mtf_fmaLD_443.jpg

Monumen Kuburan Massal Siron

Setelah mengunjungi kuburan missal, kami langsung diajak ke rumah tempat kami akan menginap selama di Aceh. Saat itu, kami mendapat kabar bahwa sudah 2 hari kapal feri yang menyebrang ke Sabang tidak beroperasi karena cuaca buruk. Hal itu sempat membuat kami kecewa, karena memang tujuan utama kami ke Aceh adalah mengunjungi Sabang. Setelah membersihkan diri dan beristirahat, kami mendapat kabar bahwa kapal feri sudah mulai beroperasi. Akhirnya kami putuskan untuk menuju Pelabuhan Ulee Lheue untuk mengecek tiket dan jadwal keberangkatan. Ditengah perjalanan, kami sempatkan untuk berhenti dan berfoto di Masjid Baiturrahim yang merupakan titik nol berawalnya bencana tsunami di Aceh serta landmark Pantai Ulee Lheue. Setibanya di pelabuhan, setelah mengobrol dengan petugas pelabuhan, akhirnya kami memutuskan untuk menyebrang esok pagi, karena melihat penumpang yang sudah cukup banyak mengantri untuk menyebrang ke Sabang dan ketidakpastian kapal akan menyebrang saat itu.

16-02-21-13-52-04-115_deco

Masjid Baiturrahim, “Zero Point Tsunami Banda Aceh”

mtf_fmaLD_449.jpg

Pantai Ulee Lheue

16-02-21-17-26-10-153_deco

Pelabuhan Ulee Lheue

Dari pelabuhan, kami kemudian mengunjungi kuburan missal korban tsunami terbesar kedua di Ulee Lheue. Pada kuburan massal tersebut disemayamkan kurang lebih 14.800 syuhada tsunami. Selanjutnya kami mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman, salah satu masjid yang tetap berdiri sekaligus tempat berlindung warga Aceh dikala bencana tsunami. Ada kejadian lucu sekaligus mengejutkan disana, saya sempat ditahan oleh penjaga masjid karena menggunakan celana. Saya sempat kaget, meskipun sebelumnya sudah diberitahu bahwa harus menggunakan rok saat berkunjung kesana. Akhirnya saya dipinjami bawahan mukena untuk saya gunakan selama berada di masjid. Saya sempat mengamati kegiatan didalam masjid, banyak anak-anak yang belajar mengaji disana. Saat ini Masjid Raya Baiturrahman sedang dalam masa pembangunan, rencananya masjid tersebut akan dibuat seperti Masjid Nabawi di Madinah dengan payung-payung besar di pelataran Masjid.

Hari pun semakin sore, destinasi selanjutnya adalah PLTD Apung yang menjadi saksi kedahsyatan gelombang tsunami. Kapal generator listrik milik PLN tersebut terseret gelombang tsunami sejauh 5 kilometer hingga terbawa ke tengah pemukiman warga.

mtf_fmaLD_453.jpg

16-02-21-13-54-21-092_deco

PLTD Apung dan Monumen Tsunami yang berada dalam satu kawasan

Akhirnya kami menutup hari pertama kami di Aceh dengan mengunjungi Pantai Lampuuk sekaligus menikmati hidangan makan malam di tepi pantai. Sayangnya cuaca saat itu sedang kurang bagus sehingga kami tidak bisa melihat sunset.

mtf_fmaLD_361.jpg

Pantai Lampuuk

Rabu, 10 Februari 2016 pukul 06.00 WIB kami sudah bersiap untuk berangkat ke Pelabuhan Ulee Lheue. Salah satu teman kami sudah berangkat terlebih dahulu untuk mengantri tiket kapal feri ke Sabang. Setelah mengisi perut, kami berangkat menuju pelabuhan, Alhamdulillah teman kami sudah mendapatkan tiket untuk menyebrang ke Sabang. Harga tiket kapal feri untuk menyebrang ke Sabang adalah Rp 27.000 per orang dan waktu tempuh ke Sabang sekitar 90 menit. Pukul 07.45 WIB kapal berangkat menuju Sabang, kami sempat was was karena cuaca yang kurang bersahabat, namun syukur Alhamdulillah kami tiba di Sabang dengan selamat.

Di Pelabuhan Sabang kami dijemput oleh Bang Asoi, yang akan mengantarkan kami menikmati suguhan alam di Sabang. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah landmark kota Sabang, yakni “I Love Sabang”. Meskipun cuaca saat itu sedang gerimis, kami tidak mau melewatkan untuk foto di landmark tersebut. Selanjutnya kami menuju Danau Aneuk Laot untuk sekedar berfoto di pinggir danau, lalu melanjutkan petualangan kami ke wisata Jaboi Volcano. Di kawasan wisata volcano tersebut terdapat 4 kawah yang masih aktif didalam hutan. Selain itu disana juga banyak terdapat hewan-hewan liar seperti monyet dan babi hutan, jadi kita juga perlu waspada ketika treking disana. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pasir Putih, sayangnya cuaca hari itu kurang bersahabat sehingga kami tidak bisa bermain di pantai dan mengabadikan keindahan pantai tersebut.

16-02-18-21-06-00-451_deco

Landmark “I Love Sabang”

mtf_fmaLD_447.jpg

Danau Aneuk Laot

mtf_fmaLD_430.jpg

mtf_fmaLD_441.jpg

Jaboi Volcano

 

Tak mau buang waktu, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Pria Laot. Untuk dapat menikmati keindahan air terjun tersebut, kami harus trekking sejauh 200 meter. Meskipun tidak terlalu tinggi, namun air terjunnya cukup indah sebagai penawar lelah kami.

mtf_fmaLD_438.jpg

mtf_fmaLD_478.jpg

Air Terjun Pria Laot

Setelah puas menikmati keindahan air terjun, kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya yakni Pantai Gapang. Pantai ini cukup ramai dikunjungi oleh turis asing yang ingin diving.

mtf_fmaLD_367.jpg

Pantai Gapang

Kami pun menutup hari pertama di Sabang dengan mengunjungi destinasi wajib yakni Titik Nol Kilometer Indonesia. Di tempat tersebut, selain dapat mengabadikan momen dengan berfoto di landmark “Kilometer 0 Indonesia”, kita juga dapat membuat sertifikat yang ditandatangani oleh Walikota Sabang dengan membayar Rp 30.000. Hari pertama di Sabang, kami memutuskan untuk menginap di daerah Iboih dengan view Pulau Rubiah, tempat kami akan snorkeling esok pagi. Dengan biaya Rp 350.000 per malam yang bisa diisi oleh 4 orang, sangat sebanding dengan kebersihan dan kerapihan kamar penginapan dan viewnya.

16-02-21-14-02-00-112_deco

Penginapan di Iboih dengan view Pulau Rubiah

20160210_183921

Salam dari Ujung Barat Indonesia (photo by. Abe)
–Bersambung…–
Advertisements

3 thoughts on “Menikmati Lukisan Alam Sang Pencipta dari Ujung Barat Indonesia (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s