Surga Tersembunyi di Pulau Seribu Masjid (Part 1)

Surga Tersembunyi di Pulau Seribu Masjid (Part 1)

16-07-20-16-17-17-854_deco

Taman Bundaran Gerung, Ikon Pulau Lombok

“Spending time in nature is healing energy” ~anonymous~

Lombok, sang primadona Indonesia yang menawarkan beragam keindahan alamnya yang dapat memanjakan mata kita dari puncak gunung hingga dasar lautnya. Namun, bukan si cantik Rinjani yang hendak saya kunjungi di Lombok kali ini, melainkan pesona laut birunya yang indah.

Day 1

Tepat pukul 9 pagi WITA Kami (saya dan beberapa teman petualang wanita lainnya) tiba di Bandara Internasional Lombok Praya. Kami langsung dijemput oleh Pak Anang, driver yang akan mengantarkan kami mengunjungi tempat-tempat indah di Lombok. Setelah berfoto di Bandara, Pak Anang mengajak kami untuk mencicipi salah satu kuliner khas Lombok di RM Cahaya yang letaknya tak jauh dari Bandara, yakni nasi balap puyung seharga Rp 10.000.

16-07-20-16-22-49-450_deco

Nasi Balap Puyung

Setelah mengisi perut, kami langsung mengunjugi Pelabuhan Tanjung Luar untuk menuju destinasi pertama kami, yakni Pantai Pink yang terletak di Lombok Timur. Pantai ini sebenarnya juga bisa ditempuh melalui jalur darat, hanya saja dapat memakan waktu perjalanan yang lebih lama, ditambah jalanan menuju kesana yang rusak. Perjalanan dari Bandara menuju ke Pelabuhan ditempuh selama 2 jam. Perjalanan melalui jalur laut ini juga memberikan kami banyak “bonus” suguhan alam yang memanjakan mata, karena sebelum sampai di Pantai Pink, kita akan mampir ke beberapa gili atau pantai yang tak kalah indah dengan Pantai Pink. Perjalanan dari Pelabuhan menuju beberapa gili sebelum akhirnya tiba di Pantai Pink memakan waktu sekitar 3-4 jam dengan menyewa perahu seharga Rp 800.000. Pantai-pantai yang kami kunjungi diantaranya Gili Pasir, Gili Sebui, Gili Petelu, Pantai Semangkok dan Pantai Pink. Bagi Anda yang suka menikmati keindahan pantai dan laut yang jauh dari keramaian, sangat pas jika mengunjungi beberapa gili tersebut.

16-07-20-08-44-32-450_deco

IMG_7827

View from Gili Pasir

16-07-20-08-45-11-552_deco

Gili Sebui

16-07-20-15-47-45-687_deco

Gili Petelu

16-07-20-15-48-57-982_deco

Pantai Semangkok

16-07-20-08-46-11-213_deco

16-07-23-22-47-01-500_deco

Pantai Pink

Di perjalanan juga kami melewati tempat pembudidayaan lobster dan mutiara yang merupakan komoditas andalan Lombok. Sayangnya budiaya mutiara disana justru dikelola oleh orang asing, bukan oleh orang pribumi sendiri. Di Pantai Pink, kita dapat beristirahat sambil menikmati kelapa muda. Kita juga dapat menaiki bukit, untuk melihat keindahan Pantai Pink dari ketinggian serta padang rumput yang luas. Disebut Pantai Pink karena memang pasir disana berwarna merah muda yang disebabkan oleh batu-batu karang berwarna merah yang pecah dilautan dan terbawa ke pinggir pantai yang menyebabkan pasir pantai berwarna merah muda.

Puas menikmati pemandangan laut, selanjutnya kami mengunjungi Kampung Tenun Sukarara yang terletak di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Disana kita dapat melihat proses pembuatan tenun dan hasil tenun yang dibuat oleh warga setempat. Kita juga dapat mencoba menenun dan membeli hasil tenun disana.

16-07-23-22-44-59-661_deco

16-07-23-22-44-08-810_deco

Kampung tenun dan beberapa hasil tenun

Hari sudah mulai gelap, saatnya kami kembali ke Mataram untuk mengisi perut dengan salah satu kuliner khas Lombok lainnya, yakni Ayam Taliwang. Ayam Taliwang merupakan makanan khas Lombok yang berasal dari daerah Kampung Karang Taliwang, Mataram. Biasanya Ayam Taliwang disajikan bersama plecing kangkung dan beberuk terong. Selanjutnya kami menuju tempat kami menginap selama di Lombok di daerah Desa Perampuan, Labu Api, Lombok Barat.

16-07-20-16-21-55-694_deco

Ayam Taliwang dengan Beberuk dan Plecing Kangkung

Day 2

Hari kedua di Lombok, kami mengujungi destinasi favorit para wisatawan asing dan juga merupakan ikon wisata di Lombok, yakni Gili Trawangan. Untuk dapat sampai kesana, bisa ditempuh dengan menaiki kapal lambat dari Pelabuhan Bangsal atau dengan kapal cepat dari Pantai Kecinan. Kami memilih naik kapal cepat dari PantaI Kecinan untuk menuju ke Gili Trawangan dengan menyewa fast boat seharga Rp 700.000 (PP) dan menyebrang selama 10 menit untuk sampai ke Gili Trawangan. Cukup mahal memang biaya yang harus kami keluarkan, namun kami dapat menghemat waktu lebih banyak jika menggunakan fast boat. Kami berkeliling di Gili Trawangan selama kurang lebih 3 jam untuk mengunjungi beberapa spot indah disana dengan berjalan kaki. Jika tidak ingin berjalan kaki, Anda dapat menggunakan Cidomo (seperti delman) ataupun menyewa sepeda untuk berkeliling Gili Trawangan.

16-07-23-22-45-39-661_deco

Pantai Kecinan

16-07-20-16-21-02-911_deco

16-07-20-15-54-28-734_deco

16-07-20-08-46-38-480_deco

16-07-20-16-20-36-106_deco

Beberapa view dari Gili Trawangan

 

Puas berkeliling Gili Trawangan, kami kembali menyebrang ke Pantai Kecinan untuk menuju destinasi selanjutnya, yakni Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep yang ditempuh sekitar 60 menit dari Pantai Kecinan. Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep terletak di satu area yakni desa Senaru, Lombok Utara tidak jauh dari pintu masuk Taman Nasional Gunung Rinjani. Untuk menuju kesana, dikenakan biaya masuk Rp 5.000 per orang (wisatawan domestik) dan Rp 10.000 per orang (wisatawan asing), serta harus didampingi oleh guide lokal.

16-07-20-16-20-13-680_deco

Pintu Masuk Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep

Untuk dapat sampai ke air terjun Sendang Gile, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga yang mencapai ketinggian 40 meter dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 15 menit. Air terjun ini terdiri memiliki ketinggian 31 meter dan terdiri dari 2 tingkatan. Air terjun ini sangat cocok bagi Anda yang tidak terlalu suka dengan medan yang terlalu berat. Sedangkan untuk menuju ke Air Terjun Tiu Kelep dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan medan yang cukup menantang. Sayangnya kami tidak sempat kesana karena hari sudah terlalu sore.

16-07-20-16-19-46-030_deco

Perjalanan menuruni anak tangga menuju Air Terjun Sendang Gile

16-07-20-16-37-32-877_deco

Air Terjun Sendang Gile

Dari Air Terjun Sendang Gile, kami menuju Masjid tertua dan bersejarah di Lombok, yakni Masjid Bayan Beleq yang terletak di Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Masjid ini berdiri pada abad ke-17 dan merupakan pintu masuknya Islam di Lombok. Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Wetu Telu, karena memadukan budaya, adat istiadat, dan agama.

20160715_172827-01[1]

Masjid Wetu Telu (photo by. @fadlun_arifin)

Kembali ke Mataram, kami mengisi perut dengan kuliner khas Lombok lainnya, yakni Sate Rembiga yang merupakan sate daging sapi khas Lombok. Dinamakan Sate Rembiga, karena sate ini berasal dari daerah Rembiga, di Mataram. Warung sate rembiga yang cukup terkenal disana adalah Warung Sate Rembiga Ibu Sinaseh. Kuliner ini dijamin bikin Anda ketagihan, karena rasanya yang sangat lezat. Harga sate rembiga per porsinya pun sangat terjangkau, yakni Rp 25.000.

16-07-20-16-18-54-702_deco

Sate Rembiga

bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s