Surga Tersembunyi di Pulau Seribu Masjid (Part 2)

Surga Tersembunyi di Pulau Seribu Masjid (Part 2)

16-07-20-15-52-05-964_deco

Pantai Tanjung Aan

“Spending time in nature is healing energy” ~anonymous~

Lombok, sang primadona Indonesia yang menawarkan beragam keindahan alamnya yang dapat memanjakan mata kita dari puncak gunung hingga dasar lautnya. Namun, bukan si cantik Rinjani yang hendak saya kunjungi di Lombok kali ini, melainkan pesona laut birunya yang indah.

Day 3

Berkunjung ke Lombok tak lengkap rasanya jika tidak menikmati keindahan bawah laut disana. Spot snorkeling yang kami pilih adalah Gili Nanggu, Gili Sadak, dan Gili Kedis yang terletak di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Di perjalanan kami sempat singgah di Bukit Malimbu untuk sekedar berfoto disana. Kita juga dapat melihat keindahan Pantai Senggigi dari atas Bukit Malimbu.

Untuk sampai ke Gili Nanggu, kami menyebrang dari Batu Kijuk dengan menyewa kapal Rp 600.000 dan waktu tempuh sekitar 20 menit. Gili Nanggu memiliki dua spot snorkeling, di sisi timur pulau merupakan tempat ikan-ikan cantik berkumpul, sedangkan di sisi selatan merupakan tempat terumbu karang yang indah. Selanjutnya, kami menyebrang ke Gili Sadak untuk beristirahat dan makan siang. Tidak ada spot snorkeling disana, namun pemandangan disana juga tak kalah indah. Terakhir, kami mengunjungi Gili Kedis. Disana kita juga dapat bersnorkeling, ataupun sekedar beristirahat dan berfoto-foto. Suguhan alam yang ditawarkan pun cukup memanjakan mata. Kita akan dikenakan biaya Rp 5000 per orang untuk setiap Gili yang dikunjungi.

16-07-20-08-47-12-430_deco

View dari Gili Nanggu

16-07-20-15-16-16-550_deco

16-07-20-15-15-49-358_deco

View dari Gili Kedis

16-07-20-15-16-56-016_deco

16-07-23-22-47-26-786_deco

View dari Gili Sudak

Selesai bersnorkeling, kami menuju ke beberapa tempat oleh-oleh khas Lombok. Sebelumnya kami sempat singgah di Pelabuhan Lembar untuk berfoto dan menikmati jagung bakar, lalu mengunjungi sentra kerajinan gerabah di daerah Banyumulek. Kami pun tak lupa mencicipi kuliner khas Lombok lainnya, yakni Sate Bulayak.  Sate ini terdiri dari beberapa pilihan, diantaranya daging sapi dan jeroan yang disajikan dengan lontong (bulayak) berlumur bumbu khas Lombok (yang menurut saya rasanya mirip lontong sayur). Harga per porsinya Rp 25.000 (10 tusuk sate dan 3 lontong).

16-07-20-16-18-31-569_deco

16-07-20-16-18-08-159_deco

Sate Bulayak

Sebelum menutup perjalanan di hari ketiga, kami sempatkan untuk mengunjungi Islamic Center Mataram. Bangunan Islamic Center Mataram diresmikan pada tahun 2015 dan merupakan bangunan masjid termegah di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bangunan ini dilengkapi dengan Menara setinggi 99 meter sesuai dengan Asma’ul Husna. Islamic Center Mataram berfungsi sebagai pusat kebudayaan, wisata religi, dan aktivitas religius lainnya. Lombok sendiri sudah lama dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, karena Pulau ini bertabur banyak masjid yang mewakili suasana religius masyarakat setempat.

16-07-20-16-17-42-409_deco

Islamic Center Mataram

Day 4

Hari terakhir di Lombok, kami berangkat lebih pagi dari biasanya untuk menikmati beberapa pantai di Lombok. Sebelum memulai menjelajah pantai, kami sempatkan untuk berfoto di Taman Bundaran Gerung yang merupakan ikon kota Lombok. Selanjutnya destinasi pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Selong Belanak. Pantai ini belum terlalu ramai pengunjung karena memang lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota. Namun, kita tidak akan kecewa jika berkunjung kesana, karena kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Konon pantai ini juga sering disebut sebagai mini Raja Ampat nya Lombok, karena memang pemandangan yang disuguhkan mirip dengan Raja Ampat. Pantai ini sangat memanjakan wisatawan yang gemar dengan olahraga surfing, karena ombak disana sangat cocok untuk olahraga tersebut.

13775433_1054827334598719_6002216322822648225_n

Full team Lombok

16-07-20-15-14-17-612_deco

16-07-20-08-48-08-967_deco

Pantai Selong Belanak

Destinasi selanjutnya adalah Pantai Mawun yang letaknya tidak jauh dari Pantai Selong Belanak. Pantai ini tak kalah indah dengan Pantai Selong Belanak. Disini kita bisa beristirahat sejenak sambil menikmati kelapa muda. Kemudian perjalanan berlanjut ke Pantai Tanjung Aan, Bukit Merese, Pantai Kuta Lombok, Pantai Seger, dan Pantai Putri Nyale. Sama seperti pantai-pantai sebelumnya yang kami kunjungi, Pantai Tanjung Aan, Kuta, dan Seger juga menawarkan suguhan alam yang memanjakan mata kita.

16-07-20-15-52-28-682_deco

Pantai Mawun

16-07-20-15-12-56-824_deco

16-07-20-15-12-32-594_deco

Pantai Tanjung Aan

16-07-20-15-11-06-223_deco

16-07-20-15-10-40-651_deco

16-07-20-15-51-31-285_deco

Beberapa view dari Bukit Merese

16-07-20-15-49-55-630_deco

Pantai Kuta Lombok

16-07-20-15-50-30-548_deco

Pantai Seger

346c4ef9-a061-465b-8c5e-0446271062fe

Patung Simbol Pantai Putri Nyale (Photo by. @fadlun_arifin)

Jika kita berkunjung pada bulan Februari di Pantai Putri Nyale, pantai tersebut akan penuh dengan wisatawan karena pada bulan tersebut ada event spesial yaitu Ritual Bau Nyale. Ritual ini berhubungan dengan mitos masyarakat setempat tentang Puteri Mandalika, dimana puteri tersebut melompat dari bukit untuk menghindari kejaran seorang pangeran yang ingin mempersuntingnya. Selanjutnya mitos mengatakan bahwa Puteri Mandalika bereinkarnasi menjadi “Nyale”, atau cacing laut. Warga biasanya “berburu” Nyale di pantai tersebut untuk dijadikan bahan beberapa jenis masakan lokal.

Destinasi terakhir yang kami kunjungi di hari terakhir kami di Lombok adalah Desa Sade yang terletak di Lombok Tengah. Desa Sade merupakan kampung tertua di Lombok Tengah bagian selatan yang terdiri dari 150 kepala keluarga. Sudah ada 15 generasi di Desa Sade ini. Seiring dengan bertambahnya jumlah keluarga di desa tersebut, mereka pun membuat perkampungan baru lainnya di daerah tersebut. Kita akan dipandu oleh penduduk lokal Desa Sade yang akan menjelaskan tentang Desa Sade selama berkeliling disana.

16-07-20-14-01-42-395_deco

Desa Sade

Desa Sade masih mempertahankan adat suku sasak, suku asli Lombok. Bangunan rumah disana pun masih tradisional yang biasa disebut Bale Tani. Bale-bale tersebut juga dibedakan berdasarkan fungsinya, ada yang sebagai rumah, lumbung padi, juga Masjid. Rumah tersebut bisa diisi oleh sekitar 5-6 kepala keluarga. Saat ini warga Desa Sade sudah memeluk Islam, namun tetap mempertahankan budayanya. Mereka juga memanen padi di atap rumah tersebut dan biasanya hanya wanita yang diijinkan untuk mengambil hasil panen karena dipercaya dapat memperlancar rejeki. Uniknya, mereka mengepel lantai rumah mereka dengan kotoran kerbau untuk menjaga rumah mereka agar tetap kuat (tidak retak-retak).

Warga Desa Sade biasanya menikah dengan sepupu sendiri sesama suku sasak. Tidak ada istilah lamaran disana, bagi laki-laki yang ingin mempersunting wanita yang Ia sukai disana, mereka akan membawa lari wanita yang disukainya secara diam-diam di malam hari. Kemudian barulah perwakilan pihak laki-laki meminta ijin kepada pihak keluarga wanita, kemudian setelah menikah barulah sang mempelai wanita diijinkan untuk bertemu dengan keluarganya.

Wanita di Desa Sade sudah diajarkan menenun sejak kecil. Konon katanya jika wanita Desa Sade belum bisa menenun, maka mereka belum diperbolehkan untuk menikah. Mereka juga menjual beberapa hasil kerajinan seperti kain tenun khas Lombok, tas, dan aksesoris lainnya.

16-07-20-14-02-09-870_deco

Pohon Cinta di Desa Sade

16-07-20-15-10-14-439_deco

Wanita Desa Sade dengan tenunnya

Setelah mengunjungi Desa Sade, kami pun langsung menuju Bandara Internasional Lombok untuk kembali ke Jakarta. Semoga suatu saat kami dapat berkunjung lagi ke Pulau Seribu Masjid yang menyuguhkan keindahan alamnya ini.

*FYI rincian biaya selama di Lombok :

  • Sewa mobil : Rp 750.000 /hari
  • Sewa perahu ke Pantai Pink : Rp 800.000
  • Speed fast boat ke Gili Trawangan: Rp 700.000
  • Sewa perahu ke Gili Nanggu : Rp 600.000
  • Tiket masuk Sendang Gile : Rp 5000 /orang (wisatwan lokal), Rp 10.000 /orang (wisatawan asing)
  • Guide Sendang Gile : Rp 200.000
  • Guide Masjid Bayan : Rp 50.000
  • Tiket di setiap pantai : Rp 10.000 /mobil
  • Tiket Gili Nanggu, Gili Sadak, dan Gili Kedis : Rp 5.000 /orang
  • Sewa Alat Snorkeling : Rp 75.000 (life jacket, fin, google)

See u next trip… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s