Belajar Mencintai Alam dari Suku Baduy Dalam

Belajar Mencintai Alam dari Suku Baduy Dalam

16-10-24-11-59-44-339_deco

Lumbung padi, Baduy Luar

“Perjalanan kali ini memang tak biasa, bukan hanya sekedar menikmati suguhan alam Sang Pencipta, tapi juga belajar bagaimana mencintai ciptaanNya.”

Sabtu pagi selepas subuh, saya berangkat menuju Stasiun Bogor menuju Stasiun Pondok Ranji, tempat meeting point trip yang kali ini saya ikuti. Tiba di Stasiun Pondok Ranji tepat pukul 7 pagi, sesuai dengan jam meeting point yang diagendakan, kemudian berkenalan dengan beberapa peserta yang telah datang. Tujuan trip saya kali ini tidak terlalu jauh dari ibu kota, namun tetap butuh usaha yang tinggi untuk bisa sampai kesana.

Tepat pukul 08.44, kereta yang akan mengantarkan Kami ke Stasiun Rangkasbitung pun tiba. Ya, perjalanan kali ini akan membawa saya dan peserta trip lainnya menemui Suku Baduy Dalam. Untuk sampai kesana, kami harus menaiki kereta menuju Stasiun Rangkasbitung yang ditempuh sekitar 1 jam 50 menit dari Stasiun Pondok Ranji. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Ciboleger dengan menggunakan Elf yang ditempuh dalam waktu 90 menit dari Stasiun Rangkasbitung.

Tiba di Desa Ciboleger, kami beristirahat sejenak untuk makan, sholat, dan briefing sebelum memulai trekking ke Baduy Dalam. Warga Baduy Dalam yang akan menemani kami sampai ke Baduy Dalam pun telah menunggu disana. Pukul 14.00 WIB kami memulai trekking menuju Baduy Dalam. Menurut warga Baduy Dalam yang menemani kami, perjalanan ini akan ditempuh sekitar 4-5 jam perjalanan. Kita juga dapat meminta bantuan mereka untuk membawakan barang bawaan kita sampai ke tujuan, untuk mengurangi beban perjalanan kita (karena beban hidup juga udah berat, hehe…).

16-10-24-12-02-42-218_deco

Desa Ciboleger

Untuk sampai ke wilayah Baduy Dalam tepatnya di Desa Cibeo, membutuhkan fisik yang cukup kuat. Ditambah lagi jika musim hujan tiba, medan trekking akan jauh terasa lebih berat karena tanah yang licin, terutama saat mendaki bukit. Selama perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan alam yang mempesona. Selain itu, kita juga dapat berinteraksi dengan warga Baduy Dalam yang menemani perjalanan kita. Beberapa jembatan bambu serta sungai akan kita lewati selama perjalanan. Jangan khawatir jika kelelahan dan kehabisan minuman, karena sepanjang perjalanan banyak warga yang berjualan minuman serta tempat yang bisa kita gunakan untuk beristirahat sejenak.

16-10-24-12-02-14-966_deco

Gerbang Baduy

16-10-24-12-01-43-631_deco

Kerajinan Tangan Warga Baduy

16-10-24-12-00-17-409_deco

Jembatan Gajebo, Baduy Luar

16-10-24-12-01-10-161_deco

16-10-24-11-58-04-599_deco

Perkampungan Baduy Luar

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan selama kurang lebih 5 jam, akhirnya kami tiba di perkampungan Suku Baduy Dalam. Malam ini, kami akan beristirahat di rumah warga Baduy Dalam. Satu rumah dapat menampung sekitar 15 orang. Warga Baduy Dalam pun menyambut kami dengan ramah, mereka juga membantu kami untuk memasak makan malam dengan bahan makanan yang kami bawa. Di Rumah mereka, kita juga  akan ditawari untuk membeli berbagai kerajinan tangan yang mereka buat seperti kain tenun, gantungan kunci, anyaman gelang, kalung, dan madu yang dihasilkan oleh warga Baduy Dalam.

Tidak banyak interaksi yang kami lakukan dengan warga disana karena hari sudah larut dan fisik pun sudah sangat lelah. Setelah membersihkan diri di sungai, kami mengisi perut, kemudian berlanjut ke acara sharing session untuk lebih mengenal antar peserta trip.  Setelah acara selesai, kami segera beristirahat untuk memulihkan tenaga karena besok akan menempuh perjalanan pulang. Hujan deras pun kembali mengguyur Baduy Dalam di malam hingga pagi hari.

Pagi harinya kami bangun dengan badan yang masih terasa pegal-pegal, kemudian lanjut membersihkan diri dan bersiap untuk perjalanan pulang. Sebelum pulang, tak lupa kami sarapan dulu sebagai tenaga untuk trekking pulang. Setelah semua peserta siap, kami pun berpamitan dengan warga, kemudian memulai perjalanan pulang ditemani warga Baduy Dalam yang menemani kami saat berangkat.

Jalur yang kami tempuh saat pulang ini berbeda dengan jalur saat kami berangkat. Jalur trekking pulang ini memang lebih cepat dibandingkan saat kami berangkat, namun kami harus melewati beberapa turunan yang cukup curam, ditambah tanah yang licin karena hujan yang mengguyur semalaman. Perjalanan pulang ini kami tempuh selama 3-4 jam untuk sampai di pemukiman penduduk diluar Baduy.

16-10-24-11-57-32-368_deco

Salah satu jembatan di kawasan Baduy Luar

16-10-24-11-58-38-335_deco

Pemandangan di kawasan Baduy Luar

jembatan-akar-baduy

Jembatan akar, Baduy Luar (foto : Putri Satyan)

Tidak banyak memang waktu yang bisa digunakan untuk berinteraksi dengan warga Baduy Dalam, selain ketika perjalanan berangkat dan pulang dari Baduy Dalam. Namun, interaksi singkat ini mengajarkan saya banyak hal tentang kesederhanaan dan bagaimana mereka mencintai alam. Ketaatan mereka akan adat istiadat, tidak membuat mereka menutup diri dengan warga diluar Baduy Dalam yang ingin berinteraksi dan mengenal keseharian mereka. Pesona alam Baduy Dalam pun tak akan pernah saya lupakan, meski hanya direkam dengan mata.

***

Sekilas tentang Suku Baduy

img-20161023-wa0011

Warga Baduy Dalam yang menemani kami (foto : Yasin Yusuf)

Urang Kanekes, Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Segala aktivitas masyarakat Baduy harus berlandaskan rukun agama Sunda Wiwitan (rukun Baduy) yang merupakan ajaran agama Sunda Wiwitan yaitu ngukus, ngawalu, muja ngalaksa, ngalanjak, ngapundayan dan ngareksakeun sasaka pusaka. Ajaran tersebut harus ditaati melalui pemimpin adat yaitu Pu’un. Pu’un harus dihormati dan diikuti segalan aturannya karena Pu’un adalah keturunan Batara. Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Namun, untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia. (Wikipedia)

Suku Baduy sendiri terdiri dari 2 macam, yakni Suku Baduy luar dan Suku Baduy dalam. Secara penampilan, Suku Baduy dalam memakai baju dan ikat kepala serba putih, sedangkan Suku Baduy Luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna hitam atau dongker. Secara budaya, Suku Baduy dalam lebih teguh memegang adat istiadat suku mereka, sedangkan Baduy Luar sudah mulai terpengaruh dengan budaya dari luar. Persamaan dari keduanya, mereka pantang untuk menggunakan alas kaki, teknologi modern, dan transportasi modern. Rumah-rumah di perkampungan Baduy masih terbuat dari bambu dan ijuk serta semuanya menghadap ke arah yang sama. Perbatasan antara Baduy Luard an Baduy Dalam adalah sebuah jembatan kayu yang tidak begitu lebar. (www.wisatabanten.com)

Suku Baduy dalam tidak mengenyam pendidikan formal, bagi mereka yang ingin bersekolah harus meninggalkan wilayah Baduy Dalam. Anak-anak Suku Baduy Dalam hanya diajarkan bagaimana cara berhitung dan bercocok tanam oleh orang tua mereka, agar kelak dapat hidup mandiri. Warga Baduy Dalam tidak diperkenankan menjual beras hasil panen mereka, namun boleh menjual hasil bercocok tanam lainnya.

Seperti kata pepatah, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Hal tersebut berlaku bagi kita sebagai pengunjung untuk selalu menghormati adat istiadat yang berlaku di wilayah Baduy Dalam, diantaranya :

  • Tidak boleh mengambil gambar, video, atau rekaman apapun di wilayah Baduy Dalam.
  • Tidak boleh menggunakan bahan-bahan kimia seperti sabun, shampo, dan odol ketika mandi di sungai.
  • Dilarang menginjak tanaman, seperti padi.
  • Dilarang membuang sampah sembarangan (seharusnya ini berlaku dimanapun kita berada, hehe..)

Tips saat mengunjungi Baduy Dalam :

  • Siapkan fisik dengan berolahraga rutin sebelum keberangkatan, karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh dan melelahkan.
  • Gunakan sepatu atau sandal gunung untuk memudahkan trekking.
  • Jika berkunjung pada musim hujan, jangan lupa untuk membawa jas hujan.
  • Jangan segan untuk membeli tongkat kayu yang dijual disana seharga Rp 5000/2 batang, karena akan sangat membantu kita dalam trekking tanjakan dan turunan yang curam.
  • Bawa barang-barang seperlunya, dan jangan segan untuk meminta bantuan warga Baduy Dalam jika kita tidak sanggup membawa barang bawaan kita saat trekking.

*FYI :

img-20161023-wa0003

Peserta Trip4Care Baduy Dalam (foto : Trip4Care)

Perjalanan saya kali ini bersama rombongan Trip4Care dengan biaya Rp 200.000/ orang. Berbeda dengan Trip Organizer lainnya, keuntungan yang didapat dari Trip4Care ini digunakan untuk membantu gerakan-gerakan sosial. Ciri khas lain dari Trip4Care adalah selalu menyisipkan acara sharing session di setiap kegiatan mereka, sehingga terjalin silaturahmi diantara peserta dan sinergi diantara komunitas yang mereka ikuti.

See you next trip… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s